Sunday, September 24, 2006,10:02 PM
Wisata Unik (Ach Yang Bener..!!)
Di kabupaten Grobogan, terdapat sebuah obyek wisata yang sangat unik yaitu obyek wisata Bledug Kuwu yang terletak di desa Kuwu kecamatan Kradenan. Obyek wisata ini berupa letupan-letupan lumpur panas. Dalam bahasa Jawa, bledug berarti letusan.Letusan lumpur panas tersebut mengandung air asin yang dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk membuat garam (warga sekitar menyebutnya dengan ‘Bleng’). Garam tersebut mempunyai bentuk yang lebih halus jika dibandingkan dengan garam dari air laut. Andapun bisa menyaksikan bagaimana warga sekitar berjuang memperoleh air asin yang berasal dari bledug guna diproses menjadi garam.Saat musim hujan, jumlah lokasi dan frekuesi letupan lebih banyak dibandingkan saat musim kemarau, dimana pada musim ini suara letusan lebih keras dan lebih besar ukurannya.Sedangkan untuk fasilitas di sekitar lokasi hanya ada sebuah tower yang digunakan untuk melihat obyek wisata tersebut. Memang tidak di benarkan bagi pengunjung untuk melihat obyek wisata ini dari dekat, karena bisa membahayakan keselamatan pengunjung sendiri. Obyek wisata ini telah beberapa kali menewaskan pengunjung karena kelalaian pengunjung sendiri sehingga terhisap ke dalam lumpur.Obyek wisata Bledug Kuwu dapat dicapai dari kota Semarang dengan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan darat ke arah timur (arah Purwodadi). Namun jika menggunakan kendaraan sendiri, Anda perlu waspada karena kondisi jalan Propinsi di kabupaten Grobogan hampir seluruhnya dalam kondisi bergelombang.
 
posted by .:: Bledug KUWU ::.
Permalink ¤ 0 comments
,9:54 PM
Letupan Lumpur Mirip Gunung Merapi
Obyek wisata yang menyajikan keajabiban alam ini luasnya kurang-lebih 45 hektar. Letaknya di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan Wirosari, 91 Km ke arah tenggara kota Semarang. Bleduk Kuwu terletak di dataran rendah bersuhu antara 28-36 derajat celcius.

Bledug Kuwu menyajikan letupan gelombang lumpur raksasa yang mengeluarkan percikan air garam. Letupan ini terjadi setiap saat dan berpindah-pindah tempat, diikuti asap putih. Letupan bisa muncul setiap 2 sampai 3 menit sekali. Untuk melihat obyek wisata ini saya biasa melalui jalan setapak. Lalu ke menara pandang untuk melihat letupannya.

Cukup duduk dan santai sambil menikmati segarnya es kelapa muda yang banyak dijajakan pedagang minuman. Saya bisa berekreasi sambil mempelajari geograpi dan fenomena alam. Keunikan lain, dalam lumpur hangat dan asin ini bisa ditemukan bakteri yang ternyata masih tahan hidup dilumpur dasar palung laut terdalam di dunia ini.

Sayangnya obyek wisata ini belum dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang seperti penginapan.
 
posted by .:: Bledug KUWU ::.
Permalink ¤ 0 comments
,9:30 PM
Fenomena Alam Penuh Legenda
Pernah denger cerita tentang ular yang bernama 'Baru Klinting'? Entah bagaimana orang tua dulu bisa mengaitkan mitos 'Baru Klinting' dengan Bledug Kuwu. Konon adanya Bledug Kuwu diakibatkan oleh kemunculan ular 'Baru Klinting' ke permukaan bumi dalam perjalanannya menuju Rawa Pening Ambarawa. Sebenarnya hikayat 'Baru Klinting' sangat potensial dijadikan tontonan yang dapat dipertunjukan di area Bledug Kuwu saat0-saat tertentuseperti halnya sendratari Ramayana di Prambanan atau Tari Kecak di Pure Bali.Dengan demikian ada daya tarik lain yang bisa membuat pengunjung untuk berkunjung ke sana. Tidak hanya disuguhi fenomena 'lumpur muncrat' saja atau pertunjukan musik dangdut saja. Satu lagi masukan buat pemerintah daerah di sana, sarana yang ada ko' kesannya tidak dirawat dengan baik? Sayang kalau dibiarkan rusak.
 
posted by .:: Bledug KUWU ::.
Permalink ¤ 0 comments
,9:10 PM
Nikmatnya Ayam Panggang "Bledug"
BERTANDANG ke objek wisata Bledug Kuwu untuk menyaksikan fenomena gunung api lumpur (mud volcano) di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, rasanya tak lengkap sebelum menikmati ayam panggang "Bledug" buatan Saminem.
Dalam mendapatkan makanan khas tersebut tidaklah mudah. Sebab, Saminem yang juga warga desa setempat tidak membuka warung ayam panggang "Bledug", layaknya warung makan di pinggir jalan.
Ya, wanita berusia 44 tahun itu hanya menerima pesanan. Meski demikian, masakannya sudah dikenal hingga ke Singapura. "Terkadang kami menerima pesanan dari Singapura," kata Saminem lirih.
Harga ayam panggang beserta sambal pencok berkisar antara Rp 35.000-Rp 40.000/porsi. Cara membuatnya, ayam kampung yang sudah disembelih dibersihkan, lalu dipanggang di atas bara api. Memanggang ayam tersebut harus ekstra hati-hati, karena antara bara api dengan ayam diberi jarak sekitar lima cm.
"Api dijaga agar tidak terlalu besar. Selain itu, saat memanggang tidak perlu dikipasi. Lama memanggang sekitar satu jam lebih," terangnya.
Sembari menunggu ayam masak, kata dia, dia menyiapkan sambal pencok. Pencok terbuat dari kelapa muda yang sudah diparut, cabai, terasi, bawang, dan kencur. Agar menjaga sambal pencok tahan lama maka dikukus terlebih dulu hingga masak. "Setelah masak, ayam panggang "Bleduk" siap dihidangkan," tuturnya.
Untuk Sesaji
Kenapa dinamakan ayam panggang "Bledug"? Saminem memaparkan, awalnya makanan tersebut untuk sesaji Mbah Bledug di Bledug Kuwu. Selain ayam panggang, disajikan pula bubur ayam agung, nasi punang, dan berbagai sesajian lainnya. "Setelah berdoa bersama, makanan tersebut lalu disantap beramai-ramai," ujarnya.
Kabag Ketahanan Pangan Pemkab Ir HM Hidayat mengatakan, makanan khas tersebut perlu dipromosikan, sehingga menjadi daya tarik masyarakat untuk berkunjung ke objek wisata tersebut.
Dengan demikian akan memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat sekitar.
Objek wisata ini berada kurang lebih 28 kilometer ke arah timur dari Purwodadi. Bledug Kuwu dikenal karena letupan-letupan lumpurnya yang mengandung garam, dan keluar secara terus-menerus. Hal itu merupakan salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Grobogan, selain sumber api abadi di Mrapen, dan Waduk Kedungombo. (Aris Mulyawan-37d)
 
posted by .:: Bledug KUWU ::.
Permalink ¤ 0 comments
,9:01 PM
Garam Kuwu di Ambang Kepunahan
Panas matahari sangat menyengat di lokasi pembuatan garam dari air Bledug Kuwu di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Empat warga lanjut usia sedang membuat garam saat matahari tepat di atas ubun-ubun. Mereka bekerja di bawah naungan caping.
Keempat warga lanjut usia itu adalah pasangan suami-istri Sujak-Sukiyem dan Salikun-Parsi, warga Desa Kuwu yang mencari penghasilan tambahan dengan membuat garam. Usia mereka rata-rata di atas 70 tahun.
Sujak, Sukiyem, Salikun, dan Parsi adalah orang-orang terakhir yang masih setia membuat garam kuwu. Generasi selanjutnya tidak tertarik meneruskan tradisi itu karena penghasilannya sangat kecil.
"Pembuat garam Kuwu tinggal empat orang, yang lain sudah habis. Pekerjaan ini tidak seimbang dengan pendapatannya," kata Sujak, pekan lalu.
Setiap kilogram garam Kuwu dihargai Rp 2.000 oleh tengkulak. Garam ini hanya beredar di pasar-pasar di Kabupaten Grobogan dan di warung-warung sekitar obyek wisata Bledug Kuwu sebagai suvenir. Khusus untuk wisatawan, garam Kuwu dijual Rp 1.000 setiap seperempat kilogram dalam kemasan plastik.
Menurut Sujak, sejak tahun 2000-an jumlah petani garam kuwu semakin menyusut dan kini tinggal empat orang. Sujak menunjukkan hamparan lumpur di sekitar obyek wisata Bledug Kuwu yang dulu penuh dengan tempat pembuatan garam.
Panas matahari yang terik berarti rezeki bagi petani garam. Jika panas terik selama satu minggu, para petani menghasilkan 20 kilogram garam.
Butiran garam kuwu lebih besar ukurannya, namun lebih halus teksturnya dibandingkan garam yang dibuat dari air laut. Rasa asin garam kuwu juga berbeda dibanding garam dari laut.
"Rasa asin garam Kuwu lebih sedap, tidak seperti garam dari laut yang asinnya terasa pahit," kata Sukiyem.
Setiap hari para petani garam bekerja mulai pukul 07.00 sampai pukul 15.00. Air yang mengandung garam dialirkan dari pusat letusan gelembung lumpur Bledug Kuwu melalui sebuah parit kecil yang panjangnya beberapa ratus meter ke sebuah kolam penampungan yang cukup dalam. Air dari kolam penampungan disaring kemudian ditampung dalam sebuah kolam tertutup di sebelahnya.
Air itu dituangkan ke dalam bilah-bilah bambu yang disusun memanjang sampai puluhan meter. Dalam sehari, air dalam bilah-bilah bambu itu diisi sampai dua kali. Setelah dijemur sampai tujuh jam dalam cuaca panas, atau tiga hari jika mendung, biasanya air dalam bilah-bilah bambu sudah mengkristal menjadi garam.
Setelah dicuci bersih, garam yang bercampur air itu dipindahkan ke dalam keranjang dari anyaman bambu berbentuk kerucut untuk ditiriskan. Air cucian garam akan menetes, lalu setelah kering garam kuwu siap dijual.
"Setelah saya mati, entah siapa yang meneruskan pekerjaan ini. Anak saya tidak mau jadi pembuat garam," kata Sujak yang punya enam anak itu.
"Saya sudah membuat garam sejak tahun 1950. Pada zaman Belanda tempat ini penuh dengan pembuat garam, tapi sejak zaman Jepang sampai sekarang harga garam kuwu tidak pernah bagus. Pada zaman Belanda di tempat ini ada gudang untuk menampung garam. Setiap transaksi garam dicatat dalam buku," ujar Sujak.
Fenomena alam seperti Bledug Kuwu oleh ahli vulkanologi lazim disebut mud volcanoes atau gunung berapi yang menyemburkan lumpur. Luas kawasan Bledug Kuwu sekitar 45 hektar.
Letusan lumpur itu diduga berasal dari reaksi kimia antara gas bumi dan air laut yang menghasilkan gas karbon dioksida dan sulfur dioksida. Setiap menit bahkan setiap detik muncul gelembung lumpur dari dalam tanah yang mengeluarkan suara letusan cukup keras disertai gas dan asap.
Lokasi obyek wisata Bledug Kuwu terletak sekitar 90 kilometer dari Kota Semarang. Sarana transportasi umum menuju lokasi ini cukup banyak. Kendala menuju lokasi Bledug Kuwu adalah jalan yang bergelombang ketika memasuki wilayah Kabupaten Grobogan.
Jika keempat petani garam yang terakhir itu sudah meninggal atau tak kuat lagi bekerja, garam kuwu yang sedap dan unik itu tinggal cerita....
(Wisnu Aji Dewabrata)
 
posted by .:: Bledug KUWU ::.
Permalink ¤ 0 comments
,8:55 PM
The Legend Of Bledhug Kuwu
Masyarakat Grobogan Purwodadi sudah tidak asing lagi akan adanya “bledhug kuwu“ tersebut, sebab obyek Bledhug Kuwu telah menjadi obyek wisata alam yang menarik di daerah tersebut. Keajaiban alam berupa “plembungan endhut“ yang meletus ( bledhug ) dengan suara letusan yang cukup keras ini memang benar - benar ajaib. Bledhug itu sepanjang zaman tidak putus - putusnya terjadi dilokasi tanah seluas kurang lebih 40 Ha. Bledhug itu ada yang sangat besar, bahkan ada yang sebesar rumah penduduk.
Menurut cerita tutur, bledhug itu terjadi karena ulah Jaka Linglung, Putra Aji Saka atau Prabu Jaka dari kerajaan Medang Kamulan.
Pada satu ketika Jaka Linglung yang berwujud ular naga itu disuruh Aji Saka atau Prabu Jaka membunuh Dewata Cengkar yang telah berubah rupa menjadi seekor buaya putih yang sangat besar, sebagai syarat untuk diakui sebagai anaknya. Jaka Linglung berangkat ke laut selatan tempat Dewata Cengkar bertahta. Dia tidak sabar melalui darat, maka dia melalui dalam tanah, jalan yang dilalui oleh Jaka Linglung itu akhirnya berubah menjadi “tanah lendhut“ Bledhug yang terjadi adalah nafas Jaka Linglung selama dalam perjalanan itu. Jadi menurut kepercayaan orang, ada hubungan bledhug itu dengan laut selatan.
Kenyataan sampai sekarang, air dari bledhug itu mengandung garam dan ditambang oleh penduduk sekitarnya sebagai tambang garam yang diambil dari air bledhug tersebut.
Selanjutnya cerita Jaka Linglung menurut cerita Aji saka, adalah sebagai berikut : Dalam serat primbon Jayabaya ( hal. 23 - 24 ) terdapatlah pasal yang menyebutkan tentang perginya Prabu Esaka dalam bab V Piwulang Dewa, yang berbunyi :
Pun Jaka sengkala anakipun Empu Anggejali, patutan saking Dewi Saka, Putranipun Raja Sarkil ing pulo Najran Sareng Jaka Sengkolo jumeneng nata, jejuluk Sang Aji Saka jengkar saking negaripun lajeng Nga Jawi, tanpo wonten ing redi kandha ( kendeng ? ) tlatah banyuwangi jejuluk Empu Sengkala. Anuju ing Surya Adam, tahun 5164, Chandra 5316, Empu Sengkala macak titimangsa tahun jawi : kaeteng tahun Candra - Sengkala I Warsa. Tahun Rum anuju angka 444 warsa. Tahun Adam tahun Surya 5161 warsa. Tahun Masehi 78 jumenengan nata.
Bada waktu Jaka Sengkala yang kemudian bergelar Aji Saka ditanah najiran, dia berguru kepada Nabi Muhamad SAW. Oleh guru dia diusir karena bersahabat pula dengan Malaikat Ijajil (Iblis). Kemudian Aji Saka pergi ke tanah Jawa lewat tanah Lampung, dengan namanya Sang Mudhik bathara Tupangku. Dia ke tanah Jawa dengan keempat orang muridnya. Di tanah Jawa dia mendirikan perguruan di ujung kulon. Kemudian mengembara sampai ke Galuh. Disini murid - muridnya ditinggalkannya, dan dia terus mengembara ke arah timur. Sampailah dia ke Medang Kamulan, tempat Prabu Dewata Cengkar, raja yang gemar makan manusia, bertahta .
Menurut serat Sindula ( Babat pajajaran, naskah carik ) negara Medang Kamulan dikuasai oleh seorang raja raksasa yang gemar makan manusia, bernama Prabu Dewata Cengkar. Akibat ulah raja itu rakyat menjadi sangat susah, sebab tiap hari harus dapat menyerahkan seorang manusia sebagai santapannya. Prabu Dewata Cengkar itu adalah putra Prabu Sindula, titisan Dewa Wisnu ke dunia di negara Galuh. Prabu Dewata Cengkar berontak kepada ayahnya Prabu Sidula kalah dan Moskwa Dewata Cengkar menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Galuh. Kerajaan dipindahkan ke Medang Kamulan.
Sementara itu dalam pengembaraan Aji Saka sampailah ke Negara Medang Kamulan itu. Aji Saka datang ke rumah janda sengkeran, seorang janda patih di Medang Kamulan. Disitu, sebagai seorang guru (Brahmana) dia banyak mengajarkan ilmu sastra, ilmu penitisan dan ilmu pengetahuan agama. Dari cerita janda sengkeran diketahui bahwa dalam negara Medang Kamulan sedang dilanda kesusahan yang besar, sebab ulah prabu Dewata Cengkar yang gemar makan manusia. Sebagai seorang Brahmana Aji Saka ingin melepaskan rakyat Medang dari kesengsaraan itu. Maka dia minta kepada janda Sengkeran agar dia haturkan kepada Prabu Dewata Cengkar untuk dijadikan santapannya. Karena kehendak Aji Saka itu tidak dapat dihalangi oleh janda sengkeran, akhirnya Aji Saka dihaturkan ke Prabu Dewata Cengkar untuk dijadikan santapannya .
Di hadapan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka menyatakan mau disantap oleh Sang Prabu asal dapat meluluskan satu permintaannya, yaitu minta tanah seluas kain ikat kepalanya. Sang Prabu tidak keberatan meluluskan permohonan tersebut .
…. Pan apurun dados dhaharing Sang Nata, nanging dharber prajanji nuwun bumi medhang, sawijare kang dhestar, bumi dhen suwun sumiyeh, yen sampun tanpa semonggo karso aji. Serat (Sindula : 17) Demikianlah permohonan Aji Saka tersebut dikabulkan. Destar (Ikat Kepala) diminta oleh prabu Dewata Cengkar, kemudian ditebarkan (dijereng), ternyata kain ikat kepala itu menutupi seluruh daerah Medang Kamulan karena kalah janji, maka Prabu Dewata Cengkar beserta prajuritnya yang setia diusir dari Negeri Medang terjadilah perang yang hebat dan Prabu Dewata Cengkar terpojok di pantai laut selatan, akhirnya dia menceburkan diri ke laut, dan berubah menjadi buaya putih yang merajai laut selatan.
Dyan Dewata cengkar salah kedaden, pan dadi baya putih wis kena ing papa, ceritane kang rama gengiro ka giri - giri, lir endra suta kagila - gila ngajrihi .( Ibit : 18 ) .
Di laut selatan Dewata Cengkar mendirikan kerajaan manusia. Patihnya bernama Adipati Gajah Mina : Bupati Ki Tumenggung Mamprang : prajurit : Haryo Lodan, Ronggo saradulo demang Wikridipo : Ki Pandelengan mina : Santono Tumenggung Mamprang, Harya Kaluyu, Raden Saradula; Demang Wikridipo : Ki Pandelegan Mina : Santapan Tumenggung Mamprang hanya terdapat dua raja yaitu Ratu Kidul dan Prabu Dewata Cengkar. Keduanya saling berebut pengaruh dan saling ingin berkuasa.
Demikianlah setelah Dewata Cengkar kalah dan menjadi buaya putih, Aji Saka diangkat menjadi raja Medhang Kamulan dengan gelar Jaka atau Empu Lodang Widayaka, atau Prabu Aji Saka.
Setelah menjadi raja, Aji Saka ingat akan dua anak abdinya yang ditinggalkan di pulau Mejati, yaitu Ki Dora dan Ki Samboda. Maka diutus abdinya yang lain untuk memanggil kedua abdinya itu. Yang datang adalah Ki Dora sedang Ki Samboda masih tetap di Pulau Majeti menunggui pusaka Aji Saka seperti pesan yang pernah ditinggalkan oleh Aji saka. Melihat kenyataan tersebut, maka Ki Dora disuruh kembali memanggil Ki Samboda dengan membawa keris pusakanya sekali. Tetapi lama sudah kedua abdi itu tidak kembali. Maka Aji Saka memutuskan Ki Duga dan Ki Prayuga ke Pulau Majeti. Dua Prayuga sampailah di Pulau Majeti ditemukan bahwa Ki Dora dan Ki Samboda telah kedapatan mati bersama. Melihat keadaannya keduanya habis berkelahi dan mati sampyuh .
Ing Pulau Mejati Nora kepanggih pun Dora Samboda inulatan, kepanggih mati karone ANACARAKA lampus, labet DATASAWALA sami, sakti PADHAJAYANYA, sakti sareng lamus, MANGGABATANGA sih, sandagane karone magsih sinanding, suku pepet, cokro pengkal. ( Ibit : 21 ) melihat kematian Dora Samboda tersebut, Duga Prayoga segera kembali ke Medang Kamulan, atur periksa kepada Prabu Jaka. Prabu Jaka menerima laporan tersebut sangat sedih sebab sebenarnya dialah yang bersalah. Untuk mengenang peristiwa tersebut maka Prabu Jaka menceritakan CARAKA JAWA yang terdiri dari empat kalimat ( Utusan berjumlah empat orang ) dan masing - masing kalimat terdiri dari 2 huruf Nglegena ( peristiwa itu mengenai lima orang jadi CARAKA JAWA berjumlah dua puluh buah, caraka jawa itu dapat hidup dan berguna bagi kehidupan umat manusia harus disandangi dengan suku, wulu, cakra, cecak, pengkal, taling, taling tarung, layar dan sebagainya. Sedang huruf itu ada beberapa yang mati kalau dipangku
Susunan caraka jawa itu adalah :
HA NA CA RA KA
DA TA SA WA LA
PA DHA JA YA NYA
MA GA BA THA NGA
Caraka jawa tersebut disusun berdasarkan tua mudanya sastra, yaitu “sastra sandi sarimbagi”, setelah ditambah dengan huruf hidup : I, o, u, e, e menjadi berjumlah 25 buah kemudian ditambah lagi dengan pengkal, cakra, keret, cecak dan wignyan jumlah menjadi 30 buah. Lengkaplah sudah cara jawa dapat hidup dan kehidupan manusia didunia .
Dengan karya tersebut menandakan bahwa Aji Saka adalah seorang Brahmana yang wignya, mahir dalam segala ilmu dan ngilmu lahir dan batin. Walaupun sudah menjadi raja, Aji Saka masih tetap melalukan kesenangan lamanya, yaitu pergi menyepi, bertapa di hutan dan gunung keramat .
Pada suatu hari Aji Saka sedang menyepi di hutan dia melihat seekor ular naga yang sedang bertapa di sebuah goa. Aji Saka panas hatinya, ular tersebut dibunuhnya setelah ular naga itu mati terdengarlah suara .
Sikaara mateni ulo taami, busuk tembe Prabu Saka sirna anggabung kelanange pujangga muskha sampun ( Ibit : 44 ).
Suara tersebut berasal dari arwah ular naga yang mati itu. Dan umpatan ular itu nantinya menjadi kenyataan. Pada suatu hari Aji Saka ingin nantinya menjadi kenyataan. Pada suatu hari Aji Saka ingin menengok Nyai Janda Sengkeran. Dahulu ketika dia datang pertama kali di negara Medang Kamulan dia mengetahui Nyai Janda mempunyai seorang anak perempuan yang cantik putri tersebut sekarang mestinya sudah dewasa anak itu bernama Retno Dewi Rarasati. Ketika dia sampai ke rumah janda tersebut dia melihat Retno Dewi Rarasati sedang menumbuk padi. Kainnya terbuka keatas dan kelihatanlah pahanya yang mulus. melihat hal tersebut Aji Saka jatuh birahinya. Dia tidak menahan asmaranya maka jatuhlah air maninya ke bumi kebetulan pada waktu itu ada seekor ayam kate putih simbar delima milik Nyi janda. Air mani itu dimakannya kemudian pergi dilain pihak Retno Dewi Rarasati melihat Aji Saka seperti kena gendam dan jatuh cinta nafsu asmaranya tidak tertahankan, maka noktahnya jatuh cinta. Nafsu asmaranya tidak tertahankan maka noktahnya jatuh ke bumi. Noktah itupun dimakan oleh ayam kate tersebut .
Kehendak Dewata tidak dapat diingkari. Ayam tersebut kemudian bertelur sebutir. Prabu Aji Saka sangat malu dengan peristiwa tersebut, inilah pembalasan ular naga yang mati di bunuhnya selanjutnya telur tersebut diambil nyi janda dan ditaruh di padaringan. Aneh, beras di padaringan tidak habis - habis walaupun tiap hari diambil berasnya bahkan bertambah banyak. Kemudian telur itu dipindahkan kelumbung tempat menyimpan padi. Dilumbung telur itu menetas menjadi seekor ular naga yang sangat besar, Nyi janda Sengkeran sangat takut pada ular itu kemudian dia berlari untuk menghadap patih melaporkan peristiwa tersebut. Kemanapun Nyi janda pergi selalu diikuti ular naga tersebut. Akhirnya sampailah kehadapan patih terngger. Ki Patih sangat takut melihat ular tersebut lebih mengherankan lagi bahwa ular itu dapat berbicara seperti manusia .
Pujangga Gumuyu suka, kaki patih ojo wedi lan tho payo podha lengah, mengko suntutur rumiyen, Ki patih langkung ajrih, gumeter nggennyo alungguh, ngucap gugup agreragapan. Tik saka apa siriki, tanpa sangkan sumabur ponang pujangga. Tata jalma bisa ngucap. Kulo niki kaki patih, arsa sowan Kanjeng Rama ing Medang Srinarapati. Ki Dipati marijrih, wus sarep ing penggalih ( serat sindula : 46 ) .
Mendengar perkataan ular yang dapat bercakap - cakap layaknya seperti manusia Ki Patih tidak lagi. Maka dia melaporkan hal tersebut kepada Prabu Jaka. Menerima laporan tersebut, raja sangat malu. Dia teringat akan peristiwa masa lalu dengan Retno Dewi Rarasati. Kenyataan itu harus dihadapi dan diterimanya. Akhirnya dia berkata, bahwa laporan itu dia terima dan ular itu diberi nama ular linglung atau Jaka linglung. Raja mengakui sebagai putranya dengan syarat Jaka Linglung dapat membunuh mungsuh utamanya, yaitu Dewata Cengkar, yang sekarang telah beralih menjadi buaya putih bertahta di laut selatan. Jaka linglung menyanggupinya. Maka berangkatlah dia ke laut selatan. Jalan yang dilaluinya menjadi rata, maka dia masuk ke bumi, dan timbul kembali ke laut selatan.
Ingkang kamargen waradin nadyan jurang pan wiradin, kasuwen ambeles mangidul, lebul telengin samudro. [ ibit ;48 ]
Di laut selatan, dia ketemu dengan Ratu Angin ( Ratu Kidul ) yang sedang dilanda kesedihan, karena rakyatnya sedang mendapat gangguan hebat dari rakyat buaya putih Dewata Cengkar. Mengetahui kedatangan Jaka Linglung hendak membunuh Dewata Cengkar itu, Ratu Kidul sangat senang hatinya. Bahkan dia berjanji bila jika linglung dapat membunuh Dewata Cengkar, dia akan mengabdi kepadanya. Dijadikan Raja Selatan, walaupun sebentar, dia akan dijadikan menantunya dikawinkan dengan anaknya : Retno Blorong, kenyataannya Jaka dapat membunuh Dewata Cengkar dan janji Dewi Angin Angin dipenuhi (Ranggawarsito; Witorotyo 111, 1992 , 122 -12 ).
Setelah beberapa lama di laut selatan, Jaka Linglung minta ijin kepada Ratu Kidul untuk kembali ke Medang Kamulan. Berangkatlah dia dengan Istrinya Retno Blorong ke Medang Kamulan.
Dia mengarah ke barat, lewat Samudra, masuk ke dalam tanah, timbul kembali di tanah pasundan. Masuk ke tanah lagi timbul di Jawa Tengah itu sebabnya di Jawa banyak ditemukan sumber air yang mengandung garam ( Bleng ), sebab sumber itu merupakan petilasan Jaka Linglung tersebut. Dalam perjalanannya diteruskan ke timur lewat bawah tanah dan muncul kembali ke Demak di Desa Walak. Masuk ke tanah lagi dan muncul kembali di Grobogan dan berhenti di rawa - rawa garam .
Medal teleng jalat ri ambles pratala weruh benggang jebul ngardi nenggih in Pasundan milo ing sak puniko kuto Bleng ing tanah jawi, patilasan niro sang Linglung ngudi milo malih majin bumi jebul Demak, ing wala wastaniki, ambles malih ing pantala, anjebol ing Grobogan ing Ngumpak lami.(Sindula : 52).
Dari Ngembak ( Rawa - rawa ? ) Jaka Linglung meneruskan perjalanan ke Banyuwangi, terus ke Jana Cerewek, ke Banjar, Dikil. Di Jati, Jaka Linglung tidur, disitu upasnya jatuh. Tempat jatuhnya upas itu kemudian dinamakan Desa Gasak. Disinilah kemudian ada “Bleduk Upas“ yang tidak dapat dimakan. Jaka Linglung melanjutkan perjalanan sampai ke Kuwu. Disini agak lama. Dari Kuwu inilah Jaka Linglung datang menghadap Prabu Jaka di Medang Kamulan sejak itulah dia diterima sebagai Putera Prabu Jaka. Oleh Prabu Jaka, Jaka Linglung diangkat sebagai Putra Mahkota dengan gelarnya Prabu Anom Linglung Tunggul Wulung. Istana Kadipaten kemudian dipindahkan ke Desa Kesanga. Sedang istrinya Retno Blorong ditempatkan di Grobogan di Desa Ngembak, wilayah Medang Kana. Kedaton Kesanga disebut pula Kedaton Kadipaten, Tumenggungan, Kariyan Panggabean atau Kranggan. Beberapa waktu menjadi Adipati Anom Tunggul Wulung kemudian pergi bertapa di Tunggul Wulung Kesanga.
 
posted by .:: Bledug KUWU ::.
Permalink ¤ 0 comments
,8:52 PM
Legenda: Ajisaka dan Kisah Naga Mencari Ayah
Sebagaimana obyek-obyek wisata alam lainnya di tanah air, obyek wisata Bledhug Kuwu juga memiliki legenda yang cukup memikat yang melatar-belakangi kemunculannya.
Dikisahkan, pada sekitar abad ke-7 Masehi, daerah Grobogan termasuk dalam wilayah Kerajaan Medang Kamolan yang diperintah oleh Dinasti Sanjaya/Syailendra. Salah seorang raja dari dinasti ini adalah Dewata Cengkar, seorang yang konon amat gemar makan daging manusia. Karena kesukaan raja yang aneh tersebut, membuat rakyat merasa ketakutan. Mereka tidak ingin menjadi santapan sang raja yang haus darah itu. Berbagai cara dilakukan untuk melawan sang raja, tetapi semuanya sia-sia saja. Tak ada yang bisa mengalahkan kesaktian sang raja.
Beberapa waktu kemudian, muncullah Ajisaka, seorang pengembara, yang merasa prihatin dengan penderitaan yang dialami oleh rakyat. Ajisaka pun kemudian berusaha untuk menghentikan kebiasaan sang raja. Dengan disaksikan oleh ribuan pasang mata, Ajisaka pun menantang adu kesaktian dengan sang raja. Banyak orang yang menyangsikan kemampuan Ajisaka, mengingat tubuhnya yang kecil. Namun apa pun, masyarakat tetap menaruh harapan kepada Ajisaka.
Sang raja yang menerima tantangan Ajisaka hanya terbahak-bahak. Raja pun menawarkan, kalau seandainya Ajisaka mampu mengalahkannya, maka Ajisaka berhak memperoleh hadiah berupa separuh wilayah kerajaan. Sebaliknya, jika Ajisaka kalah, maka raja akan memakan tubuh Ajisaka.
Ajisaka pun menyanggupi semua tawaran sang raja. Adapun permintaan terakhir Ajisaka kepada sang raja adalah, jika dia kalah dan tubuhnya dimakan oleh sang raja, Ajisaka memohon agar tulang-tulangnya nanti ditanam dalam tanah seukuran lebar ikat kepalanya.
Tentu saja sang raja segera mengiyakan dan sama sekali tidak menduga bahwa ikat kepala Ajisaka itu adalah ikat kepala yang mengandung kesaktian. Ajisaka segera melepas ikat kepalanya dan kemudian menggelarnya di atas tanah. Ajaib, ikat kepala itu berubah menjadi melebar. Raja Dewata Cengkar menggeser tempat berdirinya. Hal itu berlangsung terus seiring dengan makin mebelarnya ikat kepala Ajisaka, sampai akhirnya Dewata Cengkar tercebur di Laut Selatan. Namun Dewata Cengkar tidak mati, sebaliknya, tubuhnya menjelma menjadi bajul (buaya) putih. Sepeninggal Dewata Cengkar, rakyat kemudian menobatkan Ajisaka sebagai raja di Medang Kamolan.
Pada saat Ajisaka memerintah Medang Kamolan, muncullah seekor naga yang mengaku bernama Jaka Linglung. Menurut pengakuannya, dia adalah anak Ajisaka dan saat itu sedang mencari ayahnya.
Melihat wujudnya, Ajisaka menolak untuk mengakuinya sebagai anak. Ajisaka pun berusaha menyingkirkan sang naga, tetapi dengan cara yang amat halus. Kepada sang naga, Ajisaka mengatakan akan mengakuinya sebagai anak, jika naga itu berhasil membunuh buaya putih jelmaan Dewata Cengkar di Laut Selatan.
Terdorong keinginan untuk diakui sebagai anak, Jaka Linglung pun menyanggupi permintaan Ajisaka untuk membunuh Dewata Cengkar. Jaka Linglung pun segera berangkat. Oleh Ajisaka, Jaka Linglung tidak diperkenankan melalui jalan darat agar tidak mengganggu ketenteraman penduduk. Sebaliknya, Ajisaka mengharuskan Jaka Linglung agar berangkat ke Laut Selatan lewat dalam tanah.
Singkatnya, Jaka Linglung pun sampai di Laut Selatan dan berhasil membunuh Dewata Cengkar. Sebagaimana berangkatnya, kembalinya ke Medang Kamolan pun Jaka Linglung melalui dalam tanah. Dan sebagai bukti bahwa dia telah berhasil sampai di Laut Selatan serta membunuh Dewata Cengkar, Jaka Linglung tak lupa membawa seikat rumput grinting wulung dan air laut yang terasa asin.
Beberapa kali Jaka Linglung mencoba muncul ke permukaan, karena mengira telah sampai di tempat yang dituju. Kali pertama dia muncul di Desa Ngembak (kini wilayah Kecamatan Kota Purwodadi), kemudian di Jono (Kecamatan Tawangharjo), kemudian di Grabagan, Crewek, dan terakhir di Kuwu (ketiganya masuk Kecamatan Kradenan). Di Kuwu inilah, konon Jaka Linglung sempat melepas lelah. Dan tempat munculnya inilah yang kini diyakini menjadi asal muasal munculnya Bledhug Kuwu.
 
posted by .:: Bledug KUWU ::.
Permalink ¤ 0 comments
,8:46 PM
Bledug Kuwu "The Salt Lake"

Alam indonesia kita sangatlah kaya akan keanekaragaman alam dan budaya, banyak sekali tempat-tempat wisata yang ada di Indonesia ini yang tidak banyak orang tahu, salah satunya adalah Tempat Wisata Bledug Kuwu yang ada didaerah Purwodadi Jawa Tengah.Tepatnya Des. Kuwu, Kec. Kradenan, Kab. Grobogan, Jawa Tengah.

Tempat wisata yang satu ini sangatlah unik, sangat berbeda dengan tempat wisata-wisata lainnya, tempat wisata ini bernama Bledug Kuwu. Jika di Amerika Serikat kita dapat menjumpai SALT LAKE (padang garam) yang berasal dari dangkalan laut kemudian berubah menjadi daratan luas, dan pada saat ini daratan tersebut sering digunakan sebagai ajang pengujian kendaraan tercepat didunia. Lain halnya dengan dangkalan laut yang terdapat di Indonesia, sekaligus merupakan keajaiban alam yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain, namanya bledug kuwu, letaknya disamping desa kluwu, kecamatan kradenan kabupaten grobogan, juga karena suaranay yang secara periodik meletupkan bunyi bledug(seperti meriam yang terdengar dari kejauhan)dari gelembung lumpur bersamaan dengan keluarnya asap, gas dan air garam. Melalui proses tersebut menjadikan daratan bledug yang dulunya berada didasar laut, sekarang menjadi daratan yang mempunyai ketinggian kurang lebih 53m dari permukaan laut. Luas arealnya 45Ha dengan suhu minimum 31derajat celcius.
Untuk melalui Tempat Wisata Bledug kuwu ini kita harus menempuh jalan darat, dari semarang melalu purwodadi sampai ke desa Kluwu. Selama perjalanan kita disuguhi banyak sekali pemandangan alam yang sangat indah, hamparan sawah yang hijau dan langit yang biru. Pemandangan bukit-bukit yang begitu indah, sehingga perjalanan untuk menuju tempat wisata ini tidaklah terasa membosankan. Karena mata kita sangat segar karena memandang pemandangan alam yang serba hijau dan indah.

Sesampai di Bledug Kuwu, ada perbedaan yang sangat mencolok. Selama perjalanan kita disuguhi oleh pemandangan alam yang indah dan subur, tetapi sangat bertolak belakang dengan Bledug Kuwu. Daerah yang sangat tandus, panas, dan tidak subur. Tetapi ini menjadikannya sangat indah, dua sisi yang berbeda. Selain menikmati keindahan wisata Bledug Kuwu, ternyata disana banyak sekali penduduk desa yang mencari nafkahnya dari Bledug Kuwu sebagai petani garam. Dari sumber air garam bledug kuwu, petani garam mengolahnya hingga menjadi garam dapur. Kemashyuran rasa garam gledug kuwu pernah tercatat dalam sejarah keraton surakarta. Hal ini dapat dibuktikan melalui berbagai keterangan dari masyarakat sekitarnya. Didaerah ini terdapat gunungan-gunungan kecil yang puncaknya mengeluarkan lumpur berwarna kekuning kuningan.
Bledug Kuwu mempunyai keistimewaan tersendiri, apabila dilihat dari peta geologi Dr AJ Panekoek, bahwasanya tanah-tanah yang ada bledugnya adalah jenis Aluvial Plains(tanah endapatan atau tanah mengendap) bersamaan dengan meletupnya bledug, keluarlah uap, gas dan air garam. Suara bledug terjadi karena muntahnya kawah yang berupa lumpurdengan warna kelabu atau kelabu kehitam hitaman, tetapi kalau dicampur dengan air maka akan menjadi putih. Apabila diendapkan air endapan bledug kuwu adalah tanah kapur dan tepat sekali apabila disitu dulunya laut kemudian menjadi daratan, karena erosi dari gunung kapur sudah tentu tanah endapannya mengandung kapur.
Barry Kusuma
 
posted by .:: Bledug KUWU ::.
Permalink ¤ 0 comments
,8:32 PM
Bledug Kuwu n Muddy
A nice place to visit near Semarang (central Java, about 1.5 hours by bus taking the direction of Purwodadi), is Bledug Kuwu. It's a plain with an active mud volcano/geiser. It erupts night and day every minute or so, and is truly a bizarre place with only dry mud and sand (a lot smaller, but similar to the Bromo 'sea of sand'), and a couple of boiling pools in the middle surrounded by the usual ricefields, coconut trees and kampungs. There are viewpoints and set tracks to walk around the area, but it's a lot more fun to have a really close look. Getting sucked knee-deep into the mud is fun after you crawl out. It doesn't feel hot, only warm. Loose shoes may get lost. It IS scary.
 
posted by .:: Bledug KUWU ::.
Permalink ¤ 0 comments
,8:23 PM
Bledug Kuwu mud volcano spouts salty water, local lore
Bledug Kuwu looks like just another muddy pond. But every one or two minutes, the placid water erupts in an explosion of mud, followed by a plume of white steam. You can find this natural wonder near Kuwu village, 28 kilometers east of the town of Purwodadi. The pond is located just off the alternative road connecting Purwodadi and Cepu in Central Java, on a site measuring some 4.5 hectares. Bledug Kuwu has become a tourist attraction in the area. Visitors can watch the geyser from a distance of between 10 meters and 20 meters. The eruptions of water and mud shift positions from time to time. But there are two spots where the geyser regularly erupts. The locals call the one in the east Mbah (Grandpa) Jokotua and the one in the west Mbah (Grandma) Rodenok. They have given the spots where the geyser erupts names as they believe that the place is sacred. The geyser brings salty water up to the surface from the bowels...
 
posted by .:: Bledug KUWU ::.
Permalink ¤ 0 comments
,8:08 PM
Bledug Kuwu, An Erupt of Excitement
Bledug Kuwu is one of tourist attractions in Wirosari area in Grobogan Region, Purwodadi, Central Java. Visitors might experience a stunning natural occurrence of small, frequent bursts from mud crate with a sound resembling a mount eruption. This natural phenomenon is resulted from geothermal motion inside the earth bed. Witness said that a big burst could even create small quakes that quiver the area.
 
posted by .:: Bledug KUWU ::.
Permalink ¤ 0 comments